Jumat, 13 April 2012
Lowongan Pekerjaan
DIBUTUHKAN
PROMOTION OFFICER
Syarat:
Pend. Min D3 segala jurusan.
Laki-laki.
Umur Max 30 tahun.
mempunyai kendaraan sendiri.
Diutamakan mempunyai SIM A
Siap ditempatkan di seluruh Indonesia.
Kirim Lamaran ke:
PT Nusantara Indah Makmur.
Jl. Adisucipto No. 137, Karangasem Jajar Surakarta.
(Barat Kantor DPRD Surakarta)
atau email ke; ptnimsolo@yahoo.com
Paling Lambat 21 April 2012
Label:
D 3,
D3,
Komunikasi,
lowongan pekerjaan,
marketing,
Promosi,
promotor,
surakarta
Jumat, 03 April 2009
Apa susahnya, jika datang bilang "permisi"..???
Angin...
Udara...
Api...
Tanah...
Tiba-tiba saja berubah raut muka.
"Nyaman hilang, Tantangan membentang."
Begitu kira-kira gambar yang terpampang.
Ada apa, salah apa?
Sekelumit kata tentang perubahan menyekat hati.
Itu pula yang membuat segalanya jadi terasa asing.
Bukankah memang manusia harus berubah?
Aroma kesejukan menghambur sembari pintu-pintu membuka kunci.
Mengungkapkan perasaan masing-masing.
Segalanya..
tentang cemburu...
Marah...
Dengki...
Tapi, kepada kepedulian kiranya inti semua ini.
Cukup berani mereka mengungkap perhatian.
Bahkan Lebih daripada berani.
Bagaimana dengan hati?
Pintu sudah diketuk, kemudian ada yang masuk.
Duduk, dan hidangan menyambut perbincangan.
Darah mulai Menggigil,
Gagap...
Panas...
Dingin..
Meriang... (Kampret....!!)
Sekedar duduk disampingnya saja, dibutuhkan keberanian yang luar biasa.
Seorang petarungpun, bisa berubah menjadi banci.
Tak usah pergi jauh.
Dia sudah duduk di ruang tengah.
Kenyaman semacam apa lagi yang dicari?
Perlukah memakai penutup wajah & pelindung tubuh,
Serta mempersiapkan keranda, dan segala macam alat pemakaman?
Hanya untuk sekedar berkata "aku....." (Kampret...!!!)
Untuk menutupi ketidak berdayaan, satu kalimat terucap;
"Kenapa kau datang tak bilang permisi?"
Dia tak kenal kompromi, dia memang gila, dia datang tak di duga, tak bisa di ukur dengan apapun. tak bisa di jelaskan...
Udara...
Api...
Tanah...
Tiba-tiba saja berubah raut muka.
"Nyaman hilang, Tantangan membentang."
Begitu kira-kira gambar yang terpampang.
Ada apa, salah apa?
Sekelumit kata tentang perubahan menyekat hati.
Itu pula yang membuat segalanya jadi terasa asing.
Bukankah memang manusia harus berubah?
Aroma kesejukan menghambur sembari pintu-pintu membuka kunci.
Mengungkapkan perasaan masing-masing.
Segalanya..
tentang cemburu...
Marah...
Dengki...
Tapi, kepada kepedulian kiranya inti semua ini.
Cukup berani mereka mengungkap perhatian.
Bahkan Lebih daripada berani.
Bagaimana dengan hati?
Pintu sudah diketuk, kemudian ada yang masuk.
Duduk, dan hidangan menyambut perbincangan.
Darah mulai Menggigil,
Gagap...
Panas...
Dingin..
Meriang... (Kampret....!!)
Sekedar duduk disampingnya saja, dibutuhkan keberanian yang luar biasa.
Seorang petarungpun, bisa berubah menjadi banci.
Tak usah pergi jauh.
Dia sudah duduk di ruang tengah.
Kenyaman semacam apa lagi yang dicari?
Perlukah memakai penutup wajah & pelindung tubuh,
Serta mempersiapkan keranda, dan segala macam alat pemakaman?
Hanya untuk sekedar berkata "aku....." (Kampret...!!!)
Untuk menutupi ketidak berdayaan, satu kalimat terucap;
"Kenapa kau datang tak bilang permisi?"
Dia tak kenal kompromi, dia memang gila, dia datang tak di duga, tak bisa di ukur dengan apapun. tak bisa di jelaskan...
Jumat, 13 Maret 2009
Gara-gara si Unyil
"Nonton sekaten Yuk!" Dia berkata sembari mengamit tanganku menuju motor.
"lagi bokek, Neng. Mana Miauw itu borosnya juga minta ampun." jawabku.
"Halah... cuma ke alun2x doang. Aku nggak ngajak'in mas muter-muter kok!" dia menyakinkan.
Aku cuma garuk-garuk kepala sembari mengikuti langkahnya.
Agak khawatir juga kalo' dia ngajak'in puter-puter. ujung-ujungnya pasti mampir ke suatu tempat yang aku nggak begitu suka. Tapi, aku mencoba mengikuti apa yang dia mau.
Pernah suatu kali, dia mengajakku bertemu dengan teman-temannya. Sudah kubilang belum gajian. "nggak apa-apa mas, orang kita cuma ketemuan kok. Gak pake' makan-makan." Dia bilang. Tapi, ujung-ujungnya keluar juga duit buat bayar Ice Cream yang "BUSYET..." Dua Cup empat puluh ribu...!!!
"Mas, Rezeki, Jodoh, dan Mati manusia itu sama Tuhan udah di gariskan." Begitu dia bilang ketika aku sedikit berkeluh kesah. (Maaf MP, Aku jarang Curhat lagi padamu. He..3x)
"Bukan aku tak percaya itu, hanya saja aku kira usahaku tak sepenuh hati." kataku.
"Tuhan Maha Adil, Mas. Tak mungkin Dia membeda-bedakan umatNya. Tuhan tak mungkin memberi Anugerah pada umatNya jika umat itu tak sanggup." ujarnya.
"Mas udah baca Laskar pelangi?" tanyanya.
"Belum" Jawabku. "Tapi, kalo' liat Filemnya udah."
"Si Lintang itu di karunia'i Tuhan Kepandaian. Tapi, Tuhan juga memberikan Anugerah ayahnya seorang nelayan. Dan akhirnya Lintang harus mengambil keputusan." Dia menjelaskan. "Jadi, Manusia itu pasti ada lebih dan kurangnya."
Ahh... ini anak bisa aja mengambil contoh.
Aku jadi teringat Film si Unyil. Pak Ogah yang setia di Pos Ronda dan selalu minta cepek. Si Pelit Pak Raden, yang punya istri dermawan. Bu Bariyah yang suaranya kenceng, tapi baik Hati. Memang Manusia ada lebih dan kurangnya.
"Kau tahu si Unyil, Neng..?" tanyaku padanya.
"Ohh.. Film Laptop si Unyil." katanya.
"Bukan, Film si Unyil itu Lho. yang ada Pak Raden, Pak Ogah, Bu Bariyah..."
"Hah? emang ada mas?" Dia bertanya Heran. Tuing..tuing...tuing...
Otakku mencoba rewind ke belakang. Film si Unyil itu, kira-kira Tahun 1980an-1994.
Ya ampun...
Haruskah aku meneruskan kisah ini? atau menganggap dia sebagai Adik saja.
Atau aku yang tak berani menyanyangi perempuan semacam dia.
Dia seorang Gadis remaja, Mahasisiwi semester 2, manis, pengertian (meski kadang menyebalkan, tapi aku anggap itu lucu).
Yang membuatku ternganga dan sedikit kaget;
Tak sadar, Perempuan di sampingku ini, ketika aku mengenyam bangku kuliah, dia masih Kelas 4 SD...!!!!
WAAAA.....
Ha..ha..ha...
(Terbayanglah, seorang Mahasiswa gondrong Pacaran dengan anak yang pakai rok Merah.)
"lagi bokek, Neng. Mana Miauw itu borosnya juga minta ampun." jawabku.
"Halah... cuma ke alun2x doang. Aku nggak ngajak'in mas muter-muter kok!" dia menyakinkan.
Aku cuma garuk-garuk kepala sembari mengikuti langkahnya.
Agak khawatir juga kalo' dia ngajak'in puter-puter. ujung-ujungnya pasti mampir ke suatu tempat yang aku nggak begitu suka. Tapi, aku mencoba mengikuti apa yang dia mau.
Pernah suatu kali, dia mengajakku bertemu dengan teman-temannya. Sudah kubilang belum gajian. "nggak apa-apa mas, orang kita cuma ketemuan kok. Gak pake' makan-makan." Dia bilang. Tapi, ujung-ujungnya keluar juga duit buat bayar Ice Cream yang "BUSYET..." Dua Cup empat puluh ribu...!!!
"Mas, Rezeki, Jodoh, dan Mati manusia itu sama Tuhan udah di gariskan." Begitu dia bilang ketika aku sedikit berkeluh kesah. (Maaf MP, Aku jarang Curhat lagi padamu. He..3x)
"Bukan aku tak percaya itu, hanya saja aku kira usahaku tak sepenuh hati." kataku.
"Tuhan Maha Adil, Mas. Tak mungkin Dia membeda-bedakan umatNya. Tuhan tak mungkin memberi Anugerah pada umatNya jika umat itu tak sanggup." ujarnya.
"Mas udah baca Laskar pelangi?" tanyanya.
"Belum" Jawabku. "Tapi, kalo' liat Filemnya udah."
"Si Lintang itu di karunia'i Tuhan Kepandaian. Tapi, Tuhan juga memberikan Anugerah ayahnya seorang nelayan. Dan akhirnya Lintang harus mengambil keputusan." Dia menjelaskan. "Jadi, Manusia itu pasti ada lebih dan kurangnya."
Ahh... ini anak bisa aja mengambil contoh.
Aku jadi teringat Film si Unyil. Pak Ogah yang setia di Pos Ronda dan selalu minta cepek. Si Pelit Pak Raden, yang punya istri dermawan. Bu Bariyah yang suaranya kenceng, tapi baik Hati. Memang Manusia ada lebih dan kurangnya.
"Kau tahu si Unyil, Neng..?" tanyaku padanya.
"Ohh.. Film Laptop si Unyil." katanya.
"Bukan, Film si Unyil itu Lho. yang ada Pak Raden, Pak Ogah, Bu Bariyah..."
"Hah? emang ada mas?" Dia bertanya Heran. Tuing..tuing...tuing...
Otakku mencoba rewind ke belakang. Film si Unyil itu, kira-kira Tahun 1980an-1994.
Ya ampun...
Haruskah aku meneruskan kisah ini? atau menganggap dia sebagai Adik saja.
Atau aku yang tak berani menyanyangi perempuan semacam dia.
Dia seorang Gadis remaja, Mahasisiwi semester 2, manis, pengertian (meski kadang menyebalkan, tapi aku anggap itu lucu).
Yang membuatku ternganga dan sedikit kaget;
Tak sadar, Perempuan di sampingku ini, ketika aku mengenyam bangku kuliah, dia masih Kelas 4 SD...!!!!
WAAAA.....
Ha..ha..ha...
(Terbayanglah, seorang Mahasiswa gondrong Pacaran dengan anak yang pakai rok Merah.)
Masih Tertinggal
Engkau datang...
Engkau datang dengan berjuta kisah
Engkau datang bersama kehangatan
Engkau datang menyungging senyum
Kedatanganmu memberi matahari
Keberadaanmu mampu meredam nurani
Tingkah yang selalu mengundang tawa
Tulus hati kebahagiaan baru
Namun...
Ada sejuta maaf yang belum terampuni
Entah apa itu, Entah di bagian mana.
Tak ku mengerti serta tak bisa aku utarakan
Meski tak mengganggu kita
Sampai detik ini masih ada hati
Sebongkah rasa belum memberiku kebebasan
Dan masih senantiasa aku bersimpuh memohon ampunan
Kumohom maaf padamu pula...
Meski sudah usai, masih ada yang belum selesai
Engkau datang dengan berjuta kisah
Engkau datang bersama kehangatan
Engkau datang menyungging senyum
Kedatanganmu memberi matahari
Keberadaanmu mampu meredam nurani
Tingkah yang selalu mengundang tawa
Tulus hati kebahagiaan baru
Namun...
Ada sejuta maaf yang belum terampuni
Entah apa itu, Entah di bagian mana.
Tak ku mengerti serta tak bisa aku utarakan
Meski tak mengganggu kita
Sampai detik ini masih ada hati
Sebongkah rasa belum memberiku kebebasan
Dan masih senantiasa aku bersimpuh memohon ampunan
Kumohom maaf padamu pula...
Meski sudah usai, masih ada yang belum selesai
Mahameru 2007 (Part 5)
(Part IV)
Tepat tengah malam, kami membenahi tenda. Dingin Arcapada mendera seluruh tulang. sekadar mengencangkan tali saja, harus berdua.Menuju Mahameru, tak disarankan untuk membawa seluruh peralatan. Cukuplah Bekal makanan dan peralatan yang kemungkinan di butuhkan di perjalanan. Webing, Oxycan, Mantel, jacket, dan tak lupa air minum.
Senter menyala. Kiranya, kami yang paling dahulu berjalan. ternyata, di atas kami ada beberapa orang yang sudah mulai perjalanan. Mungkin mereka datang di Arcapada ketika kami sedang terlelap dalam tidur. Jalan setapak, menuju Kalimati begitu ramia pagi ini. tapi, tak sepatah katapun yang terdengar. Hanya semacam bisikan yang kami dengar. Pohon-pohon di jalur ini seperti bayangan manusia yang berdiri tegak, mempersilahkan kami meneruskan perjalanan.
Sinar dari senter berpendar seperti lampu Flip-flop. Ketika cahaya jatuh ke tanah, tampak beberapa prasasti In Memoriam beberapa Pendaki yang tak selamat. inilah jembatan kelik.
Indi paling depan. di ikuti Alin dan Tami. Disusul Bram dan Ardi. Aku dan Yudi berada di paling belakang.
Nafas tersengal-sengal. Bukan hanya karena kadar oxigen yang menipis, tapi jalur ini lumayan berdebu serta Google dan penutup wajah yang cukup menghalangi hidung.
Niat ingin menyongsong mentari di Mahameru tak tersampaikan. ketika di pertengahan jalur berpasir, Matahari sudah menggeliat di sebelah timur. Menyongsong kami yang masih berada di bawah di hiasi asap dari kawah Semeru.
Lelah dan hampir putus asa. Alin terlihat mulai melempar handuk putih, tanda menyerah. Bram
yang tak rela hal itu terjadi, mulai memapahnya. Seperti tautan jiwa, Tami juga mulai terengah-engah. Bram akhirnya mengeluarkan webing untuk menarik mereka ke atas. Alin, Tami, Bram dan Yudi dahulu pernah menaklukkan puncak Rinjani bersama-sama. Kala itu, ada keinginanku untuk ikut. Namun apa daya, Izin Cuti tak aku dapat. Maklum, ketika itu aku masih karyawan baru.
Kawan-kawan meminta air. Bukan aku sombong atau egois, mereka tak aku beri. Aku berpikir, jika mereka aku beri sekarang, untuk turun kita bakal kehabisan amunisi.
Jam sudah menunjukkan hampir pukul 09.00 WIB. Aku mencoba memberi semangat kepada kawan-kawan untuk mempercepat langkah. Namun, wajah bersungut dari mereka yang aku dapat.
Yudi dan Indi sudah tak terlihat lagi di atas. di bawah aku melihat Ardi dan Bram yang terseok-seok menarik Tami dan Alin. tak tega melihat itu, aku lempar satu botol air mineral kepada mereka. Dan konyolnya, (entah konyol atau apalah). sisa air mineral itu, mereka berikan kepada pendaki yang mulai turun dari puncak mahameru. Ahh... inilah namanya tolong menolong.
Setelah melewati pagi yang melelahkan, akhirnya kami sampai juga di Puncak Semeru. Puncak Abadi para Dewa. Genggam erat Peluk-Cium dan tangis mulai merebak. dan segalanya mulai terungkap di antara isak dekapan.
Yudi, Sahabat yang aku khianati, tentang kekasihnya yang aku Cintai. Tak terkira, dialah yang mendorongku untuk sampai di Atap Pulau jawa ini. Maaf sahabat, aku mencintai mantan
kekasihmu itu.
Indi, yang selama ini semacam patung hidup menjadi penunjuk arah kami semua, menampung kami sebelum berangkat ke gunung ini. Tak pula dia menggerutu atau bahkan memberikan arah yang salah. Padahal, kami senantiasa acuh dengan keberadaannya.
Tami Perempuan yang aku sayang, menangis tersedu di pelukanku. Pernah dia di depan mataku berkhianat. semenjak itu tak pernah aku peduli padanya hingga saat ini. beberapa kali maaf dia ucap di Mahameru ini. aku hanya bisa diam. Dalam hati, sebelum maaf keluar dari bibirnya, aku sudah memberikannya. Namun, Luka yang tergores tetap akan membekas.
Ardi dia paling kecil di antara kami hanya melongo dan tersenyum melihat tingkah kami. Namun, dia juga berusaha ikut memeluk. Masa bodoh apa yang terjadi, pokoknya ikut memeluk.
Sedang Bram, Dia memandang ke arah Barat sembari berucap, "Jam sepuluh nanti, harusnya aku berada di Gedung rektorat. Hari ini aku wisuda."
Hah..???
Mana mungkin kita bisa sampai di gedung rektorat jam sepuluh? sedang perjalanan ke sini saja, kita butuh waktu 2 hari.
"Ha..ha..ha..." Tawa Bram menggema. "sengaja aku menghindar dari acara itu."
Seorang Perempuan sudah menawan hatinya. Namun karena sebuah perbedaan, kecil kemungkinan mereka bisa bersama. Dan hari ini, Bram berusaha untuk menghindari pertemuan dengan orang tua perempuan ini.
Air mata Alin masih menghias di Pipi dan kelopak matanya. kamis serentak memeluk dan mengucek-ucek kepalanya. Tak percaya dia bisa sampai di sini. Jika di Rinjani, bisa mendaki sambil bersantai-santai. Sedang Semeru, tak bisa seperti itu. Waktu sangat menentukan.
Sesaat, kami menunggu keluarnya asap Semeru. Sayang sekali, kami sudah terlalu siang sampai di sini. Dan asap yang kami tunggu tak juga keluar. sempat kiranya kami berlatar belakang asap, jika kami berangkat lebih pagi.
Prasasti Soe Hok Gie menjadi Point of Interest pengabadian bukti kami sampai di Puncak ini
. semua atribut yang kami sayang, yang dibawa, kami sandingkan dengan prasasti tersebut.
Seperti yang di anjurkan, sebelum pukul 10.00 WIB, kami mulai meninggalkan Mahameru.
Beraksi Layaknya Snowboarding di Televisi, Kami meloncat dan meluncur. Debu beterbangan, Tanah dan batu longsor ke bawah. Kami
tak peduli. segala beban sudah terlepas di Mahameru. Tak ada lagi gunung yang ingin aku daki setelah Mahameru ini.
Aku sudah sampai di tempat tertinggi di pulau jawa.
Perjalanan dari mahameru menuju Arcapada terasa panas sekali. Google Penutup wajah, sampai jacket kita lepas. tak peduli dengan debu yang masuk ke paru-paru. Yang terpikir segera sampai di Arcapada dan meneguk air.
Tenda dan barang yang kami tinggal di Arcapada tak berubah sedikitpun. Bergergas mengemasi barang, kemudian turun ke Ranu Kumbolo. Sore ini harus sampai di Ranu Kumbolo. Harus...!!!
Persediaan air cuma sampai nanti malam. Serta badan kotor terkena debu Semeru.
Berlari dan berlari, Itu yang dilakukan. Hari sudah mulai gelap. Tepat di Kalimati, kami mulai berpencar tak karuan. Indi di paling depan. Sudah tak bisa lagi mendengar teriakan Ardi kiranya. Seperti biasa Tami dan Alin ada di belakang Ardi. Aku dan Yudi paling belakang.
Di daerah Blok Jambangan, kesemuanya benar-benar terpencar. Caci Maki mulai memenuhi pikiranku. Selama carier Yudi masih terlihat, aku masih bisa bernafas lega. Jika kelebat carier tak terlihat, saatnya aku berlari kencang.
sampai di Ngoro-oro ombo terlihat semua kawan-kawan. Masih dengan formasi semula. Indi, Ardi, Alin dan Tami, Bram kemudian Yudi. Berkumpul kembali di Puncak Tanjakan Cinta. Caci maki aku urngkan. alasan Indi cukup masuk akal. Dia meninggalkan kami untuk lebih dahulu sampai di ranu kumbolo agar bisa mancari bantuan jika kami yang di belakang tak segera sampai ketika malam menjelang.
Malam di Ranu Kumbolo cukup hangat. Aku dan Yudi menikmati "Air hangat" berdua. Saat itulah pengakuan mulai terlontar.
"Kau masih berharap dia kembali?" tanyaku.
"A*%$NG.., kenapa kau tanya itu?" Ganti Yudi yang bertanya.
"aku teramat sayang pada adindaku." Jawabku.
"aku tahu itu."
"tapi sayang yang aku maksud ini beda."
"Maksudmu?" Yudi penasaran.
"Sebelum kau memilikinya, aku yang terlebih dahulu menyanyanginya. Hanya saja, aku tak mampu mengungkapkan, dan tak mampu berbuat sesuatu yang menunjukkan besarnya sayangku padanya." jawabku lagi.
Hening. Tiba-tiba saja malam ini terasa mencekam. Air di Danau serasa tak bergerak. Api unggun terlihat membesar. Mungkin sepadan dengan amarah Yudi.
Kau boleh marah sahabat, kau boleh menghujam jantungku dengan golok yang ada di depan kita ini. Tapi, aku kira itu akan percuma. Dia tak akan kembali kepadamu. Dendammu sudah cukup menutup pintu dimana dia dulu masuk. sedang aku, tak pernah pintu itu tertutup. hanya saja, dia juga tak pernah masuk.
"Jika kau benar sayang padanya, kenapa kau malah memberikan dia padaku, dan kau memilih Vania?" lanjut Yudi. Aku gagu. Aku tak bisa menjawab. Tak masuk akal jika aku sayang mereka berdua. lebih tepat kiranya jika amencinta mereka.
"Aku mencoba memisahkan antara Cinta dan rasa ingin memiliki." hanya itu yang keluar dari mulutku.
Sudah "tinggi" kiranya ketika sadar kawan-kawan yang lain mulai bergabung dengan kami berdua. Tak ada hujaman golok, tak pula api unggun membakarku. dan pula, mulai terdengar suara air danau mulai beriak.
Alin duduk tepat di depanku bersama Bram dan Ardi. Indi sibuk sendiri dengan api unggun yang mulai meredup.
Tami mengambil tempat di sebelahku. Mulai dia bergelanyut di lenganku.
Aku coba menyungging senyum. Tapi karena "tinggi" aku tak tahu, senyum manis atau sinis yang terpampang. Hingga akhirnya Tami melepas lenganku dan mulai tertunduk...
*(To Be Continued
Tepat tengah malam, kami membenahi tenda. Dingin Arcapada mendera seluruh tulang. sekadar mengencangkan tali saja, harus berdua.Menuju Mahameru, tak disarankan untuk membawa seluruh peralatan. Cukuplah Bekal makanan dan peralatan yang kemungkinan di butuhkan di perjalanan. Webing, Oxycan, Mantel, jacket, dan tak lupa air minum.
Senter menyala. Kiranya, kami yang paling dahulu berjalan. ternyata, di atas kami ada beberapa orang yang sudah mulai perjalanan. Mungkin mereka datang di Arcapada ketika kami sedang terlelap dalam tidur. Jalan setapak, menuju Kalimati begitu ramia pagi ini. tapi, tak sepatah katapun yang terdengar. Hanya semacam bisikan yang kami dengar. Pohon-pohon di jalur ini seperti bayangan manusia yang berdiri tegak, mempersilahkan kami meneruskan perjalanan.
Sinar dari senter berpendar seperti lampu Flip-flop. Ketika cahaya jatuh ke tanah, tampak beberapa prasasti In Memoriam beberapa Pendaki yang tak selamat. inilah jembatan kelik.
Indi paling depan. di ikuti Alin dan Tami. Disusul Bram dan Ardi. Aku dan Yudi berada di paling belakang.
Nafas tersengal-sengal. Bukan hanya karena kadar oxigen yang menipis, tapi jalur ini lumayan berdebu serta Google dan penutup wajah yang cukup menghalangi hidung.
Niat ingin menyongsong mentari di Mahameru tak tersampaikan. ketika di pertengahan jalur berpasir, Matahari sudah menggeliat di sebelah timur. Menyongsong kami yang masih berada di bawah di hiasi asap dari kawah Semeru.
Lelah dan hampir putus asa. Alin terlihat mulai melempar handuk putih, tanda menyerah. Bram
Kawan-kawan meminta air. Bukan aku sombong atau egois, mereka tak aku beri. Aku berpikir, jika mereka aku beri sekarang, untuk turun kita bakal kehabisan amunisi.
Jam sudah menunjukkan hampir pukul 09.00 WIB. Aku mencoba memberi semangat kepada kawan-kawan untuk mempercepat langkah. Namun, wajah bersungut dari mereka yang aku dapat.
Yudi dan Indi sudah tak terlihat lagi di atas. di bawah aku melihat Ardi dan Bram yang terseok-seok menarik Tami dan Alin. tak tega melihat itu, aku lempar satu botol air mineral kepada mereka. Dan konyolnya, (entah konyol atau apalah). sisa air mineral itu, mereka berikan kepada pendaki yang mulai turun dari puncak mahameru. Ahh... inilah namanya tolong menolong.
Setelah melewati pagi yang melelahkan, akhirnya kami sampai juga di Puncak Semeru. Puncak Abadi para Dewa. Genggam erat Peluk-Cium dan tangis mulai merebak. dan segalanya mulai terungkap di antara isak dekapan.
Yudi, Sahabat yang aku khianati, tentang kekasihnya yang aku Cintai. Tak terkira, dialah yang mendorongku untuk sampai di Atap Pulau jawa ini. Maaf sahabat, aku mencintai mantan
Indi, yang selama ini semacam patung hidup menjadi penunjuk arah kami semua, menampung kami sebelum berangkat ke gunung ini. Tak pula dia menggerutu atau bahkan memberikan arah yang salah. Padahal, kami senantiasa acuh dengan keberadaannya.
Tami Perempuan yang aku sayang, menangis tersedu di pelukanku. Pernah dia di depan mataku berkhianat. semenjak itu tak pernah aku peduli padanya hingga saat ini. beberapa kali maaf dia ucap di Mahameru ini. aku hanya bisa diam. Dalam hati, sebelum maaf keluar dari bibirnya, aku sudah memberikannya. Namun, Luka yang tergores tetap akan membekas.
Ardi dia paling kecil di antara kami hanya melongo dan tersenyum melihat tingkah kami. Namun, dia juga berusaha ikut memeluk. Masa bodoh apa yang terjadi, pokoknya ikut memeluk.
Sedang Bram, Dia memandang ke arah Barat sembari berucap, "Jam sepuluh nanti, harusnya aku berada di Gedung rektorat. Hari ini aku wisuda."
Hah..???
Mana mungkin kita bisa sampai di gedung rektorat jam sepuluh? sedang perjalanan ke sini saja, kita butuh waktu 2 hari.
"Ha..ha..ha..." Tawa Bram menggema. "sengaja aku menghindar dari acara itu."
Seorang Perempuan sudah menawan hatinya. Namun karena sebuah perbedaan, kecil kemungkinan mereka bisa bersama. Dan hari ini, Bram berusaha untuk menghindari pertemuan dengan orang tua perempuan ini.
Air mata Alin masih menghias di Pipi dan kelopak matanya. kamis serentak memeluk dan mengucek-ucek kepalanya. Tak percaya dia bisa sampai di sini. Jika di Rinjani, bisa mendaki sambil bersantai-santai. Sedang Semeru, tak bisa seperti itu. Waktu sangat menentukan.
Sesaat, kami menunggu keluarnya asap Semeru. Sayang sekali, kami sudah terlalu siang sampai di sini. Dan asap yang kami tunggu tak juga keluar. sempat kiranya kami berlatar belakang asap, jika kami berangkat lebih pagi.
Prasasti Soe Hok Gie menjadi Point of Interest pengabadian bukti kami sampai di Puncak ini
. semua atribut yang kami sayang, yang dibawa, kami sandingkan dengan prasasti tersebut.Seperti yang di anjurkan, sebelum pukul 10.00 WIB, kami mulai meninggalkan Mahameru.
Beraksi Layaknya Snowboarding di Televisi, Kami meloncat dan meluncur. Debu beterbangan, Tanah dan batu longsor ke bawah. Kami
Aku sudah sampai di tempat tertinggi di pulau jawa.
Perjalanan dari mahameru menuju Arcapada terasa panas sekali. Google Penutup wajah, sampai jacket kita lepas. tak peduli dengan debu yang masuk ke paru-paru. Yang terpikir segera sampai di Arcapada dan meneguk air.
Tenda dan barang yang kami tinggal di Arcapada tak berubah sedikitpun. Bergergas mengemasi barang, kemudian turun ke Ranu Kumbolo. Sore ini harus sampai di Ranu Kumbolo. Harus...!!!
Persediaan air cuma sampai nanti malam. Serta badan kotor terkena debu Semeru.
Berlari dan berlari, Itu yang dilakukan. Hari sudah mulai gelap. Tepat di Kalimati, kami mulai berpencar tak karuan. Indi di paling depan. Sudah tak bisa lagi mendengar teriakan Ardi kiranya. Seperti biasa Tami dan Alin ada di belakang Ardi. Aku dan Yudi paling belakang.
Di daerah Blok Jambangan, kesemuanya benar-benar terpencar. Caci Maki mulai memenuhi pikiranku. Selama carier Yudi masih terlihat, aku masih bisa bernafas lega. Jika kelebat carier tak terlihat, saatnya aku berlari kencang.
sampai di Ngoro-oro ombo terlihat semua kawan-kawan. Masih dengan formasi semula. Indi, Ardi, Alin dan Tami, Bram kemudian Yudi. Berkumpul kembali di Puncak Tanjakan Cinta. Caci maki aku urngkan. alasan Indi cukup masuk akal. Dia meninggalkan kami untuk lebih dahulu sampai di ranu kumbolo agar bisa mancari bantuan jika kami yang di belakang tak segera sampai ketika malam menjelang.
Malam di Ranu Kumbolo cukup hangat. Aku dan Yudi menikmati "Air hangat" berdua. Saat itulah pengakuan mulai terlontar.
"Kau masih berharap dia kembali?" tanyaku.
"A*%$NG.., kenapa kau tanya itu?" Ganti Yudi yang bertanya.
"aku teramat sayang pada adindaku." Jawabku.
"aku tahu itu."
"tapi sayang yang aku maksud ini beda."
"Maksudmu?" Yudi penasaran.
"Sebelum kau memilikinya, aku yang terlebih dahulu menyanyanginya. Hanya saja, aku tak mampu mengungkapkan, dan tak mampu berbuat sesuatu yang menunjukkan besarnya sayangku padanya." jawabku lagi.
Hening. Tiba-tiba saja malam ini terasa mencekam. Air di Danau serasa tak bergerak. Api unggun terlihat membesar. Mungkin sepadan dengan amarah Yudi.
Kau boleh marah sahabat, kau boleh menghujam jantungku dengan golok yang ada di depan kita ini. Tapi, aku kira itu akan percuma. Dia tak akan kembali kepadamu. Dendammu sudah cukup menutup pintu dimana dia dulu masuk. sedang aku, tak pernah pintu itu tertutup. hanya saja, dia juga tak pernah masuk.
"Jika kau benar sayang padanya, kenapa kau malah memberikan dia padaku, dan kau memilih Vania?" lanjut Yudi. Aku gagu. Aku tak bisa menjawab. Tak masuk akal jika aku sayang mereka berdua. lebih tepat kiranya jika amencinta mereka.
"Aku mencoba memisahkan antara Cinta dan rasa ingin memiliki." hanya itu yang keluar dari mulutku.
Sudah "tinggi" kiranya ketika sadar kawan-kawan yang lain mulai bergabung dengan kami berdua. Tak ada hujaman golok, tak pula api unggun membakarku. dan pula, mulai terdengar suara air danau mulai beriak.
Alin duduk tepat di depanku bersama Bram dan Ardi. Indi sibuk sendiri dengan api unggun yang mulai meredup.
Tami mengambil tempat di sebelahku. Mulai dia bergelanyut di lenganku.
Aku coba menyungging senyum. Tapi karena "tinggi" aku tak tahu, senyum manis atau sinis yang terpampang. Hingga akhirnya Tami melepas lenganku dan mulai tertunduk...
*(To Be Continued
Sabtu, 21 Februari 2009
Kopdar.. ya Kopdar, Tapi....
Siang Ini, harusnya kerjaan udah kelar. Akan tetapi.. (niru Logatnya gogon), ada beberapa
halaman yang ternyata belum ada fotonya. Jadilah aku minta si Empunya tulisan buat ngLengkapi.
Dia bilang sih "okay.. nanti sebelum jam tujuh".
Dan aku bersabar sampai sekarang.
(Pukul 19.20 WIB, ketika tulisan ini diturunkan)
Nah...
ini yang Bikin BT, sampai sekarang gak nongol tuh batang hidung pemilik halaman.
Beberapa saat lalu, kutanya kabar kepadanya. "Lagi dimana?"
Dan jawabannya sangat bikin ngiler bin "Gethem-gethem".
Dia bilang "Lagi Kumpul Blogger di Loji Gandrung"
ANJING.... CEPET BALIK...!!!!
JANGKREEK.... KAMU TAHU KERJAAN SAMA HOBI GAK SIH..???
KALO" KAMU UDAH KENYANG SAMA BLOG, YA UDAH TUNGGUIN LOJI GANDRUNG SANA..!!!!
BEDA'IN Dong.. MONYET..!!!!
DIAMPUT... EMANG "DAPURMU" THOK YANG ngBLOG...???
Salahkah Kalo' kayak gini, aku maki2x tuh Blogger?
halaman yang ternyata belum ada fotonya. Jadilah aku minta si Empunya tulisan buat ngLengkapi.
Dia bilang sih "okay.. nanti sebelum jam tujuh".
Dan aku bersabar sampai sekarang.
(Pukul 19.20 WIB, ketika tulisan ini diturunkan)
Nah...
ini yang Bikin BT, sampai sekarang gak nongol tuh batang hidung pemilik halaman.
Beberapa saat lalu, kutanya kabar kepadanya. "Lagi dimana?"
Dan jawabannya sangat bikin ngiler bin "Gethem-gethem".
Dia bilang "Lagi Kumpul Blogger di Loji Gandrung"
ANJING.... CEPET BALIK...!!!!
JANGKREEK.... KAMU TAHU KERJAAN SAMA HOBI GAK SIH..???
KALO" KAMU UDAH KENYANG SAMA BLOG, YA UDAH TUNGGUIN LOJI GANDRUNG SANA..!!!!
BEDA'IN Dong.. MONYET..!!!!
DIAMPUT... EMANG "DAPURMU" THOK YANG ngBLOG...???
Salahkah Kalo' kayak gini, aku maki2x tuh Blogger?
Rabu, 18 Februari 2009
Bike to Work
Gara-gara si Miauw (Mio.red) yang Borosnya lumayan minta ampun, akhirnya beberapa hari ini banting setir pindah hati ke Fedi (Federal.red) yang cukup bikin "gemrobyos" sebagai pendamping di pagi hari.
Pagi-pagi, gak usah pake' Mandi, langung tancap pedal. Paling cuma Cuci muka & gosok gigi. Gak usah manas'in motor, gak usah ribet2x kayak mo berangkat ke kerja. (hlah.. ini emang gak berangkat kerja?)Di jalan, barengan sama anak-anak SD & SMP berangkat sekolah. Lumayanlah, sembari cuci mata sama anak2x kecil. (Hi..hi..hi..)
Sebenernya ngincer yg SMA. tapi, jaman sekarang udah jarang bahkan gak ada anak SMA yang mo naik sepeda kayak jaman dulu.
Tapi, tenang... gak ada anak SMA, masih ada para pegawai pabrik yg Bike to Work juga. cukuplah sebagai pengganti anak-anak SMA. Ha..ha..ha..
Pake' Fedi, bisa nyelip di antar mobil2x yang antri di Lampu Merah, langsung merangsek ke Depan. Kalo' berani, bisa juga naik ke trotoar. Tapi, jangan sering lakukan. Hal itu akan membahayakan para pejalan kaki. Bike to Work melewati jalan-jalan tikus tambah asyik. coba, kalo' lewat jalan tikus pake' sepeda motor. pasti suaranya bising. Belum lagi, kalo' ketemu jalan Buntu... Waa..!!!
Sampai di kantor juga pasti paling pagi. Jangan coba-coba Bike to Work sampai kantor udah waktunya masuk. Sebab, harus mandi dulu. gak keren di meja kerja masih bau keringet.
Selain menghemat kantong, peduli Global Warming, BtW juga menyehatkan badan Lho... He..he..he...
Ayo.. kita ber-BtW..!!!!
di Solo BtW club dimana yak?
(eh, ada yg punya atau tahu sticker Bike to Work gak? minta dunk! atau saya dikasih tahu dimana belinya. teng kyu)
Langganan:
Entri (Atom)


